Rabu, 23 Mei 2012

Dirimu 1



DIRIMU Satu

Hatiku mulai terasa tak enak setelah tahu bahwa password FB Regga telah berganti tanpa sepengetahuan aku , aku mulai curiga dengan semua sikap nya, telephone tidak pernah diangkat , dan untuk sms ku pun ia sudah jarang. Namun aku tetap berpositiv thinking karena mungkin semua permasalahan di rumahnya belum selesai karena akhir-akhir ini banyak sekali masalah di rumahnya. Sudah kesekian kalinya aku mengajaknya untuk bertemu , namun tak ada respon sedikitpun darinya. Sebenarnya sudah banyak bukti kalau regga mungkin sudah bosan dengan ku, namun rasa cinta ini membodohiku. Aku selalu percaya pada nya, sampai tiba saatnya di awal febuari tepat pada tanggal dimana aku dan dirinya genap 18 bulan menjalin hubungan, aku mendapat kabar dari teman baiknya dan dari saudaranya bahwa Regga sempat bilang pada mereka bahwa ia ingin memutuskan cintaku dan ingin kembali pada mantan kekasihnya, ini sebuah pukulan yang berat bagiku , ternyata semua kebaikan dan kesetiaan ku padanya hanya dibalas dengan pendustaan.
Tepat pukul 1 pagi , Regga memutuskan ku via sms dengan alasan yang menurutku tidak jelas, ia malah menyuruhku untuk meminta maaf pada mantannya karena telah menuduh sembarangan pada mantannya. Aku tidak ambil pusing, segera aku merencanakan sesuatu dan terlintas di pikiranku untuk tidak marah sedikitpun dengan keputusannya akupun menerima semua nya dengan berlaga ikhlas , padahal dalam hatiku sakit . Setidaknya rencana awalku adalah membuat seolah terkesan tak ada kesedihan dalam diriku hanya karena di putuskannya. Dua hari setelah itu akupun merencanakan sebuah rencana yang kedua , yaitu meng”HACK” facebook miliknya , dan dengan cepat rencana itu berhasil.
Setelah itu aku tak lagi memikirkannya , fokus ku hanya dengan kesibukanku sebagai manager futsall tim kebanggaan sekolah swasta terbaik di kota hujan. Akhir-akhir ini aku dan salah satu orang di tim futsall menjadi lebih sering dekat , bahkan segala kegundahan ku bsa hilang sekejap dengan kebersamaan ku bersamanya , yaitu Eza.
“Za , makasih banget ya akhir-akhir ini kamu ada buat aku.”
“Rinda, apapun bakal aku lakuin buat kamu tersenyum.” Eza semakin dalam menatap mataku.
“hhm, kamu emang sahabat terbaik aku za. Aku gak tau kalo gak ada kamu, bisa-bisa aku gila sendiri mikirin masalah aku. Hhe”
“Sedih kamu , juga kesedihan aku. Bahagia kamu, juga kegahagiaan aku.”
Kata-kata Eza mengingatkan ku pada Regga, Regga sering berkata seperti itu padaku.
Tiga minggu berlalu setelah Regga memutuskan ku , namun selalu terlintas di pikiran ku tentangnya. Aku masih berusaha mencari kabarnya, dari teman hingga kekeluarganya . namun hasilnya nihil .
            Hari ini aku berencana ke toko buku untuk membeli suatu alat Tulis. Tak sengaja disana aku ternyata bertemu dengan kakanya Regga.
“Ka, tolong kasih tau aku, Regga gimana keadaannya?”
“Regga baik-baik aja kok de, kenapa emang?”
“Tapi kenapa Regga gak pernah hubungin aku lagi ya ?”
“Regga lagi sibuk de, dia ngebantuin papahnya di kantor. Ya hitung-hitung pengalaman kerjalah.” Tutur kakaknya Regga seperti kebingungan.
“Tapi kenapa dia juga gak pernah sekolah?.”
“Hmm, Oh ya kakak bentar lagi mau kuliah, maaf ya kakak buru-buru. Kita bicara via telephone aja, ok ? bye..”
“Tapi kak?.”
Kakaknya Regga langsung pergi begitu aja meninggalkanku. Aku semakin penasaran dengan semua ini. Eza mengajakku ke suatu tempat dan ternyata ia mengajakku ke tempat latihan futsall.
“Za, emang hari ini ada jadwal latihan ya?”
“Enggak ada kok.”
“Terus kamu ngapain ngajak aku kesini?.”
“Iseng..”
Aku melihat ke segala arah lapangan futsall, dan memoriku teringat pada Regga.
“Dulu , kalo aku badmood regga ngajak aku kesini. Dan kamu tau apa yang kita lakuin?”
“Meditasi antara perasaan , hati, dan cinta.” Eza pun meneruskan kalimatku.
Aku kaget mendengar apa yang Eza katakan, akhir-akhir ini dia tau apa yang sering aku lakuin bersama Regga.
“Kamu tau dari mana za ? Jangan bilang kalo kamu juga tau caranya?”
Eza langsung duduk bersila di pinggir lapangan dan kemudian memejamkan matanya.
“Pejamkan mata, lalu hirup udara perlahan dan ingat semua kejadian indah yang pernah kita lakuin selama hidup..”
Aku pun reflex meneruskan kalimat Eza. “Dan satukan perasaan , hati , dan cinta yang kita pernah rasakan.”
“Dalam hitungan ke 5 , semua penat hilang. 1..2..3..4..”
“Stop!!!” ujar ku dengan keras dan menarik tangan Eza untuk berdiri.
“Za, kamu apa-apaan sih ?!!”
“Aku Cuma ngelakuin meditasi.”
“Za, kamu tuh tau dari mana semua ini ?”
Eza hanya menundukan kepala, Dan dia terdiam sejenak.
“Nda ijinin aku buat ngelakuin apa-apa yang pernah Regga lakuin ke kamu.”
“Maksud kamu apa? Gak akan ada yang bisa gantiin Regga meskipun dia udah nyakitin aku.”
“Tapi kamu harus punya pengganti nya nda!”
“Za, please .. sikap kamu jangan sama kaya regga! Aku gak mau kamu panggil aku Nda sama kaya regga panggil aku , aku gak mau tatapan kamu ke aku sama kaya tatapan Regga ke aku. Aku gak mau kata-kata kamu sama kaya kata-kata Regga, Aku gak mau kamu ngelakuin hal yang sama dengan Regga!!!!”.
 Nada suara ku mengeras dan aku menahan tangis.
“Tapi aku Cuma gak mau kamu lupain semua tentang regga. Aku udah janji sama dia untuk gantiin dia disisi kamu!”.
“Maksud kamu ?”.
Eza langsung memelukku, aku bingung dengan semua ini dan kemudian eza berkata.
“Nda, regga bilang kamu jangan pernah tangisi semua ini. Apapun kenyataannya kamu harus terima dan Eza nyuruh aku buat jagain kamu, karena Regga sekarang lagi koma”.
Aku kaget dan langsung melepas pelukan Eza.
“Jelasin sama aku tentang semua ini za?”. Air mataku pun langsung berlinang memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
“Jadi Regga tuh udah koma hampir sebulan lalu, tepatnya 2 hari setelah dia memutuskannya hubungannya dengan kamu. Dia mengidap kanker otak nda.”
Aku hanya terdiam tidak mempercayainya, tangan ku pun mulai bergetar .
“Terakhir dia sadar, dia bilang ke aku kalo aku suruh jagain kamu selama dia gak ada. Jadi aku fikir dengan mengikuti cara Regga natap kamu, bicara sama kamu itu buat supaya kamu gak lupain regga.”
“Kasih tau aku sekarang Regga dirumah sakit mana?”. Nada suaraku sedikit emosi.
“Ini surat yang Regga kasih ke aku untuk kamu”.
Aku pun menerimanya dan perlahan  membuka surat itu, air mataku pun langsung berlinang membaca surat itu.

 Dear : RiNda
 Maafin aku gak pernah kasih tau soal ini sama kamu, aku gak mau kamu khawatirin aku. Aku sengaja buat skenario cerita hubungan cinta kita seperti ini. Semoga kamu ngerti ini semua semata karna aku gak mau kamu sedih liat keadaan aku. Aku yakin Eza bisa bikin kamu kembali tersenyum. Karena sedih kamu juga kesedihan aku, dan kebahagiaan kamu juga kebahagiaan aku, :D semangaaattt hhe.

           
Akupun langsung di antar oleh Eza kerumah sakit, tangisku pun pecah ketika melihat keadaan Regga, dan disana sudah ada keluarga Regga yang terlihat sedih meratapi Regga, terutama ibu nya. Belum sempat aku mendekatinya, berjarak 3 kaki dari tempat tidurnya, Regga lansung menengok kearah ku dengan tatapan yang mendalam dan tersenyum kepada ku.
“Regga..”
Dan regga pun langsung menutup matanya dan di saat itu Regga meninggal …
Aku hanya bisa menangis dan meratapi semua kesalahan ku dan penyesalanku selama penantian mencari Regga.
Ternyata Regga gak seperti yang aku bayangin selama ini , andai aja kamu masih ada, aku akan balas surat kamu dengan satu kalimat : “DIRIMU SATU…”

OPENING

DO YOU KNOW HOW TO MAKE GOOD TEENS ???

Di jaman sekarang , kayanya menjadi Good Teens itu susah . Hmmm tapi gak juga sih .. secara pandangan orang itu beda - beda mengenai Remaja yg Baik :) .Well , jadi remaja itu menyenangkan banget ^_^ tapi disamping itu di masa ini juga kita punya berbagai macem problem yang nguji kita menuju kedewasaan.
Nah disini aku YOKE AULIA ASY-SYIFA ngebuat Blog ini untuk menulis semua tentang REMAJA , semoga ajah ada manfaatnya buat kalian semua :D
OK DEH .. Selamat datang di BLOG aku :)

First Story


NALURI

Aku terbangun dari  tidurku , dahiku telah basah oleh keringat dan muka ku pucat pasi , jantungku terasa berdetak kencang. Aku sadar bahwa aku telah bermimpi buruk, aku langsung menengok kearah jam dinding , jam menunjukan pukul 02.30 pagi, aku segera menarik nafas dan tak lupa berdoa sebelum aku tidur kembali.
Jam menunjukan pukul 06.15 pagi , aku segera duduk di meja makan bersama keluargaku untuk sarapan pagi.
“Bia kamu gak kenapa napa ?” Tanya ayah.
“aku gak kenapa napa kok yah , Cuma agak sedikit pusing.” Jawab ku sambil mengambil lauk dan nasi yang ada di depanku.
“Yaudah habis ini mamah siapin obat buat kamu bawa ke sekolah.” Ujar mamah.
“makasih mah, sekalian sama siapin bekal untuk aku bawa ke sekolah yah mah, soalnya hari ini aku pulang agak malam mah.”
“emang kamu mau kemana de?” Tanya kak raya.
“Aku harus ikut nyiapin persiapan acara PENSI yang diselenggarain besok kak.”
“Hmm , nyiapin acara pensi atau jalan sama cowo nihh ??”
“Apaan sih kak , emangnya kaka tiap hari jalan terus sama kak Juno. Wee”
“biarin , ayah aja gak keberatan kok , !” jawab kakak.
“udh hey kalian kok malah berantem ? cepet sarapan nya nanti telat loh ke sekolah .” ujar Ayah.
15 menit kemudian aku dan ayah sudah siap untuk berangkat, kami pun segera berpamitan pada mamah dan kak Raya.
“mah , kak, kita berangkat dulu yah .” Aku pun cium tangan pada mamah dan kakak, tidak seperti biasa mamah memeluk ku dengan cukup lama. Dan pandangan kak Raya terasa berbeda, pandangan nya seperti  lama tidak bertemu dengan ku.
“Mah , peluk ayah juga dong . hehe”
“Huhh ayah centil .” ujar kakak.
Ayah pun memeluk kami bertiga , ini adalah momen yang jarang sekali bagiku . biasanya tiap pagi kami hanya cium tangan dan bersalaman saja.
                Ayah mengantarkanku dengan motor vespa kesayangannya, 20 menit kemudian aku sampai di sekolah. Aku pun segera  cium tangan dan member I salam pada ayah .
“yah , hati-hati di jalan ya. Jangan lupa nanti malam jemput aku  di sekolah .”
“Okee” ujar ayah sambil tersenyum riang padaku . kemudian ayah pun pergi .
Dari kejauhan aku masih saja memandangi ayah seperti sedang ada yang aku fikirkan tapi aku sendiri tidak tahu sedang memikirkan apa.
“Biaa!!!” panggil Icha .
Aku pun sedikit terkejut . “Icha , ngagetin aja deh.”
“lagian pagi-pagi gini kamu udah bengong , cepetan ke kelas bentar lagi bel tuh.”
“hayu .”
Jam menunjukan pukul 14.00 , terdengar suara bel tertanda saatnya pulang sekolah.
Aku segera menuju kearah aula sekolah yang besok akan di pakai sebagai tempat pensi, disanah sudah kumpul panitia yang bertugas sesuai tugas masing-masing .
“hai .” sapa tama padaku.
“ehh tam , hai. Gimana persiapannya ?”
“alhamdulilah , yahh tinggal ngedekor doang sama masalah konsumsi gitu deh .”
“bagus deh , trus apa yang aku bisa bantu ?”
“Gimana klo ngeberesin surat-surat yang berantakan di ruang osis, soalnya belum disusun rapih. Kamu kan anak perkantoran, jadi pasti tau dong ?”
“Oke , ayo kita ke ruang osis J
Aku pun menuju ruang osis dan memulai membereskan semuanya bersama tama dan Ani .
“hhuuh , lumayan cape juga yah.” Ujar  ani sambil mengelap keringatnya dengan tisu.
Aku melihat kardus yang ada di atas lemari akan jatuh dan pasti akan tepat mengenai  Tama, aku pun segera mendorong tama. “ Awaaassss !” dan akhirnya aku yang tertimpa kardus itu. Aku pun langsung pingsan.
Tak tahu berapa lama aku terpingsan, aku pun terbangun dengan perasaan yang tidak enak , mimpi yang semalam seperti datang kembali.
“aaaarrrggghhh ..” aku berteriak dan bangun dari tidurku.
“bia , istigfar. Ini kami  Tama dan Ani .” Tama mencoba menenangkanku. Aku pun menarik nafas perlahan dan mencoba mengingat apa yang tadi aku impikan . ani memberiku segelas air putih dan meminumkannya padaku.
“Tam , aku panggil bu Ratih dulu ya mau kasih kabar kalo Bia udah sadar. Kamu jagain bia dulu bentar.”
“iyya , cepet ya.”
Ani pun langsung pergi meninggalkan kami.
“Bia, kamu gak kenapa-kenapa kan ? kamu rileks dulu, jangan tegang begini.”  Tama kembali mencoba menenangkanku dengan mengusap usap rambutku.
“aku mimpiin itu lagi ,”
“mimpi apa ? certain sama aku.”
“itu dia yang aku gak tau , ssetiap aku terbangun dari mimpi aku, aku langsung gak inget apa yang aku impiin. Yang aku rasain Cuma ketakutan dan perasaan yang gak enak.” Aku sedikit histeris dan menangis.
“tenang bia, kamu certain pelan-pelan , tenangin perasaan kamu. Disini gak ada yang perlu ditakutin.”
Bu Ratih pun tak lama kemudian datang bersama Ani. Bu ratih pun ikut mencoba menenangkanku.
“Bia, kamu tenangin diri kamu dulu ya. Setelah kamu agak rileks nanti Ayah kamu akn menjeput kamu untuk pulang.”
Aku mencoba menenangkan diri, bu Ratih pun pergi,  ani dan tama menemaniku. Satu jam kemudian bu Ratih kembali datang. “Bia, gimana kamu udah mendingan?”. Tanya bu ratih
“Alhamdulilah bu.” Jawabku. Kemudian ponselku berdering tertanda pesan  masuk dari ayahku.
Aku pun segera membacanya. “Bu, kayanya aku pulang sendiri aja deh, ayahku masih ada kerjaan di kantornya.”
“Baiklah , kalo begitu Tama aja yang antar kamu ke rumah ya?”.
“terimakasih bu.”
“Tama, kamu pakai mobil ibu untuk antar Bia pulang yah. Pastikan bia sampai rumah.”
“Siap bu J .”
Akhirnya aku pulang di antar Tama dengan menggunakan mobil bu Ratih. Sepanjang jalan aku hanya terdiam memikirkan sesuatu.
“Bia? Kamu beneran gak kenapa-napa?” Tanya tama.
“nggk kok tam, aku baik-baik aja.” Jawabku sambil tersenyum kecil.
“oh iya makasih ya kamu udah selamatin aku. Aku jadi ngerasa bersalah, aturan cowok yang ngelindungin cewe, tapi ini malah sebaliknya.”
“iya sama-sama.” Jawabku . selama di perjalanan aku terus saja dihantui rasa tak enak, kemudian aku melihat ada keramaian di jalan yang aku lewati.
“kayanya ada kecelakaan ya ?” Tanya tama.
“Mungkin”.  Di sela-sela banyaknya kerumunan orang, aku seperti melihat kak raya  yang sedang berdiri dengan wajah pucat pasi.
“kak raya.” Kataku
“mana? Kamu salah liat orang kali. Yaudah yuk kita lanjutin perjalanan aja  nanti kalo kita kelamaan berhenti malah bikin macet.”
“yaudah iya”. Tama pun mengendarai mobilnya kembali.
30 menit kemudian aku tiba di depan rumah, aku segera turun dari mobil, begitu juga dengan Tama.
“makasih ya tam udah anterin aku”.
“iya sama-sama.”
“kamu mau masuk dulu gak?”.
“gak usah deh, gak enak ini kan mobil bu Ratih, takutnya mau dipake”.
Sekilas pandanganku terarah pada jendela rumah, sepertinya mamahku sedang menutup gorden.
“Bia? Kok bengong .. liatin apa?”
“hhm nggk kok. ohh yaudah kalo gitu kamu hati-hati yah di jalan”.
“iyaa,kamu banyak-banyak istirahat ya bia”. Ujar Tama sambil mengelus-elus rambutku.
Tama pun kembali masuk mobil dan langsung pergi. Aku pun segera masuk rumah.
“assalamualaikum..” aku memasuki ruang tamu dan kebiasaan aku adalah menaruh tas di sofa ruang tamu .Rumahku terasa hening , seperti tidak ada orang dalam rumah, tapi gak mungkin gak ada orang, kalo mamahku pergi pasti pintu di kunci. Aku pun langsung menuju kamar ku untuk istirahat, saat melewati kamar kak raya trnyta pintunya sedikit terbuka dan aku melihat tv dikamarnya menyala dan kak raya sedang berbaring di tempat tidur.
“kak volume nya kecilin dong.. aku mau istirahat”. Ujarku sambil masuk ke kamarku sendiri. Aku pun segera membuka sepatu dan kaos kaki ku , kemudian aku langsung berbaring di ranjang dan menghela nafas untuk mencoba lupakan mimpi-mimpi itu. Kuarang lebih 15 menit aku mencoba rileks  dan memejamkan mata. Biasanya mamah sudah memanggilku untuk menyuruhku makan, namun dari tadi aku belum mendengar suara mamah ataupun kak Raya.
“huuhh mamah lagi ngapain sih, kok gak kedengeran ya suaranya.” Aku merasa haus dan lapar, aku pun memutuskan untuk ke dapur  mencari makanan dan minuman di kulkas. Aku pun membuka kulkas dan mengambil sebuah apel. Ketika aku menutup kulkas aku melihat sebuah memo dari mamah yg di tempel di pintu kulkas. Aku pun membacanya, kata mamahku ia pergi ke tempat kuliah kak raya karena ada urusan. Aku pun bertanya-tanya, lalu siapa yang tadi menutup gorden? Mamah kan pergi, apa mungkin kak Raya? Tapi masa sih kak raya ? kalo mamah ke kampus kak raya karena ada urusan pasti urusannya menyangkut kak raya. Dan kak raya pasti juga di kampus sama mamah.. lalu yang dikamaaaarr siaapaa? Aku pun segera menuju kamar kak raya dan memberanikan diri membuka pintu kamarnya, dan setelah aku buka ternyata di kamarnya kosong tak ada siapapun, dan tv pun dalam keadaan mati. Aku pun makin merasa cemas, perasaan ku campur aduk. Dengan tergesa-gesa aku segera bergegas keluar rumah dan berlari secepatnya. Aku tak tau apa yang sedang kurasakan, aku terus saja berlari seperti dikejar-kejar perasaan ku sendiri,  aku teringat sebagian mimpiku yaitu aku berlari secepat mungkin dengan perasaan yang dihantui rasa takut,rasa cemas, dan perasaan yang tidak enak. Aku pun makin bertnya Tanya , apa yang sebenarnya terjadi ???” aku pun kemudian terjatuh. Dan seseorang menolongku, ternyata itu pak Royo tetanggaku temannya ayah.
“Bia kamu kenapa?” sepertinya pak royo mancemaskanku. Muka ku pucat pasi, keringt pun membanjiri tubuhku, detak jantungku sangat cepat, dan hembusan nafasku makin tidak beraturan. Anehnya, aku merasa tadi sudah berlari sangat jauh, tapi mngapa aku terjatuh tepat di depan rumahku.Kemudian sebuah mobil berhenti di samping jalan dan ternyata itu adalah Tama, tama segera turun dai mobil dan menghampiriku.
“astagfirullah, BIa kamu kenapa?”.
“apa yang terjadi dengan keluarga aku ?”
“Bia, tadi paman dapet telepon dari kantor ayah kamu, ayah kamu meninggal karena seranagan jantung.” Aku terdiamm.
“di jalan yang tadi kita lewatin, ternyata itu yang kecelakaan adalah mobilnya Juno, dan di dalem mobil itu ada kak raya dan mamah kamu. Mereka meninggal ..” Ujar tama
Aku pun berteriak dan menagis histeris seperti kehilangan akal , dan ini semua seperti jawaban atas perasaan – perasaan yang  akhir2 ini menghantuiku. Aku pun memeluk Tama dan menangis di pundaknya, tama mencoba menenangkanku, begitu pula pak Royo.
Kemudian esok harinya keluarga ku di makam kan secara berdekatan , setelah selesai pemakaman  orang orang pun pergi , hanya tinggal aku yang masih memandangi makam keluargaku di temani tama.
“aku masih gak percaya ..”
“yaudahlah bia, serahin semuanya sama  allah . aku yakin  kamu pasti kuat ngadepin semua ini.”
“terimaksih tam, aku akan lebih kuat klo kamu selalu ada disini bersama aku.”
“aku gak bisa ..” jawab tama dengan singkat.
Aku menatapi makam keluargaku satu-satu tapi di barisan keempat makam aku melihat sebuah batu nisan bertuliskan  nama PRATAMA HANGGAWA . aku pun langsung  menengok kearah tama dan aku tercengang saat aku mengetahui tak ada siapa-siapa disitu kecuali aku .
“gak mungkin , “
Aku pun seperti terbawa oleh waktu , posisiku kini berada di sekolah tepatnya masih di ruang osis .
Aku bingung dengan semua ini , bukankah tadi aku ada di pemakaman? Aku pun baru sadar kalo di depan ku ada Tama tertimpa kardus yg jatuh dari atas lemari , tak tau apa yg ada di dalam kardus itu , yg pasti tama  terbujur kaku dengan kepala di lumuri darah .
“Tidaaaaakkkkkkkkkkkkkkkk !!!” teriakku.


END