NALURI
Aku terbangun dari tidurku ,
dahiku telah basah oleh keringat dan muka ku pucat pasi , jantungku terasa
berdetak kencang. Aku sadar bahwa aku telah bermimpi buruk, aku langsung
menengok kearah jam dinding , jam menunjukan pukul 02.30 pagi, aku segera
menarik nafas dan tak lupa berdoa sebelum aku tidur kembali.
Jam menunjukan pukul 06.15 pagi , aku segera duduk di meja makan
bersama keluargaku untuk sarapan pagi.
“Bia kamu gak kenapa napa ?” Tanya ayah.
“aku gak kenapa napa kok yah , Cuma agak sedikit pusing.” Jawab ku
sambil mengambil lauk dan nasi yang ada di depanku.
“Yaudah habis ini mamah siapin obat buat kamu bawa ke sekolah.” Ujar
mamah.
“makasih mah, sekalian sama siapin bekal untuk aku bawa ke sekolah yah
mah, soalnya hari ini aku pulang agak malam mah.”
“emang kamu mau kemana de?” Tanya kak raya.
“Aku harus ikut nyiapin persiapan acara PENSI yang diselenggarain
besok kak.”
“Hmm , nyiapin acara pensi atau jalan sama cowo nihh ??”
“Apaan sih kak , emangnya kaka tiap hari jalan terus sama kak Juno.
Wee”
“biarin , ayah aja gak keberatan kok , !” jawab kakak.
“udh hey kalian kok malah berantem ? cepet sarapan nya nanti telat loh
ke sekolah .” ujar Ayah.
15 menit kemudian aku dan ayah sudah siap untuk berangkat, kami pun
segera berpamitan pada mamah dan kak Raya.
“mah , kak, kita berangkat dulu yah .” Aku pun cium tangan pada mamah
dan kakak, tidak seperti biasa mamah memeluk ku dengan cukup lama. Dan
pandangan kak Raya terasa berbeda, pandangan nya seperti lama tidak bertemu dengan ku.
“Mah , peluk ayah juga dong . hehe”
“Huhh ayah centil .” ujar kakak.
Ayah pun memeluk kami bertiga , ini adalah momen yang jarang sekali
bagiku . biasanya tiap pagi kami hanya cium tangan dan bersalaman saja.
Ayah mengantarkanku
dengan motor vespa kesayangannya, 20 menit kemudian aku sampai di sekolah. Aku
pun segera cium tangan dan member I salam
pada ayah .
“yah , hati-hati di jalan ya. Jangan lupa nanti malam jemput aku di sekolah .”
“Okee” ujar ayah sambil tersenyum riang padaku . kemudian ayah pun
pergi .
Dari kejauhan aku masih saja memandangi ayah seperti sedang ada yang
aku fikirkan tapi aku sendiri tidak tahu sedang memikirkan apa.
“Biaa!!!” panggil Icha .
Aku pun sedikit terkejut . “Icha , ngagetin aja deh.”
“lagian pagi-pagi gini kamu udah bengong , cepetan ke kelas bentar
lagi bel tuh.”
“hayu .”
Jam menunjukan pukul 14.00 , terdengar suara bel tertanda saatnya
pulang sekolah.
Aku segera menuju kearah aula sekolah yang besok akan di pakai sebagai
tempat pensi, disanah sudah kumpul panitia yang bertugas sesuai tugas
masing-masing .
“hai .” sapa tama padaku.
“ehh tam , hai. Gimana persiapannya ?”
“alhamdulilah , yahh tinggal ngedekor doang sama masalah konsumsi gitu
deh .”
“bagus deh , trus apa yang aku bisa bantu ?”
“Gimana klo ngeberesin surat-surat yang berantakan di ruang osis,
soalnya belum disusun rapih. Kamu kan anak perkantoran, jadi pasti tau dong ?”
“Oke , ayo kita ke ruang osis J”
Aku pun menuju ruang osis dan memulai membereskan semuanya bersama
tama dan Ani .
“hhuuh , lumayan cape juga yah.” Ujar ani sambil mengelap keringatnya dengan tisu.
Aku melihat kardus yang ada di atas lemari akan jatuh dan pasti akan
tepat mengenai Tama, aku pun segera
mendorong tama. “ Awaaassss !” dan akhirnya aku yang tertimpa kardus itu. Aku
pun langsung pingsan.
Tak tahu berapa lama aku terpingsan, aku pun terbangun dengan perasaan
yang tidak enak , mimpi yang semalam seperti datang kembali.
“aaaarrrggghhh ..” aku berteriak dan bangun dari tidurku.
“bia , istigfar. Ini kami Tama
dan Ani .” Tama mencoba menenangkanku. Aku pun menarik nafas perlahan dan
mencoba mengingat apa yang tadi aku impikan . ani memberiku segelas air putih
dan meminumkannya padaku.
“Tam , aku panggil bu Ratih dulu ya mau kasih kabar kalo Bia udah
sadar. Kamu jagain bia dulu bentar.”
“iyya , cepet ya.”
Ani pun langsung pergi meninggalkan kami.
“Bia, kamu gak kenapa-kenapa kan ? kamu rileks dulu, jangan tegang
begini.” Tama kembali mencoba
menenangkanku dengan mengusap usap rambutku.
“aku mimpiin itu lagi ,”
“mimpi apa ? certain sama aku.”
“itu dia yang aku gak tau , ssetiap aku terbangun dari mimpi aku, aku
langsung gak inget apa yang aku impiin. Yang aku rasain Cuma ketakutan dan
perasaan yang gak enak.” Aku sedikit histeris dan menangis.
“tenang bia, kamu certain pelan-pelan , tenangin perasaan kamu. Disini
gak ada yang perlu ditakutin.”
Bu Ratih pun tak lama kemudian datang bersama Ani. Bu ratih pun ikut
mencoba menenangkanku.
“Bia, kamu tenangin diri kamu dulu ya. Setelah kamu agak rileks nanti Ayah
kamu akn menjeput kamu untuk pulang.”
Aku mencoba menenangkan diri, bu Ratih pun pergi, ani dan tama menemaniku. Satu jam kemudian bu
Ratih kembali datang. “Bia, gimana kamu udah mendingan?”. Tanya bu ratih
“Alhamdulilah bu.” Jawabku. Kemudian ponselku berdering tertanda
pesan masuk dari ayahku.
Aku pun segera membacanya. “Bu, kayanya aku pulang sendiri aja deh,
ayahku masih ada kerjaan di kantornya.”
“Baiklah , kalo begitu Tama aja yang antar kamu ke rumah ya?”.
“terimakasih bu.”
“Tama, kamu pakai mobil ibu untuk antar Bia pulang yah. Pastikan bia
sampai rumah.”
“Siap bu J
.”
Akhirnya aku pulang di antar Tama dengan menggunakan mobil bu Ratih.
Sepanjang jalan aku hanya terdiam memikirkan sesuatu.
“Bia? Kamu beneran gak kenapa-napa?” Tanya tama.
“nggk kok tam, aku baik-baik aja.” Jawabku sambil tersenyum kecil.
“oh iya makasih ya kamu udah selamatin aku. Aku jadi ngerasa bersalah,
aturan cowok yang ngelindungin cewe, tapi ini malah sebaliknya.”
“iya sama-sama.” Jawabku . selama di perjalanan aku terus saja
dihantui rasa tak enak, kemudian aku melihat ada keramaian di jalan yang aku
lewati.
“kayanya ada kecelakaan ya ?” Tanya tama.
“Mungkin”. Di sela-sela
banyaknya kerumunan orang, aku seperti melihat kak raya yang sedang berdiri dengan wajah pucat pasi.
“kak raya.” Kataku
“mana? Kamu salah liat orang kali. Yaudah yuk kita lanjutin perjalanan
aja nanti kalo kita kelamaan berhenti
malah bikin macet.”
“yaudah iya”. Tama pun mengendarai mobilnya kembali.
30 menit kemudian aku tiba di depan rumah, aku segera turun dari
mobil, begitu juga dengan Tama.
“makasih ya tam udah anterin aku”.
“iya sama-sama.”
“kamu mau masuk dulu gak?”.
“gak usah deh, gak enak ini kan mobil bu Ratih, takutnya mau dipake”.
Sekilas pandanganku terarah pada jendela rumah, sepertinya mamahku
sedang menutup gorden.
“Bia? Kok bengong .. liatin apa?”
“hhm nggk kok. ohh yaudah kalo gitu kamu hati-hati yah di jalan”.
“iyaa,kamu banyak-banyak istirahat ya bia”. Ujar Tama sambil
mengelus-elus rambutku.
Tama pun kembali masuk mobil dan langsung pergi. Aku pun segera masuk
rumah.
“assalamualaikum..” aku memasuki ruang tamu dan kebiasaan aku adalah
menaruh tas di sofa ruang tamu .Rumahku terasa hening , seperti tidak ada orang
dalam rumah, tapi gak mungkin gak ada orang, kalo mamahku pergi pasti pintu di
kunci. Aku pun langsung menuju kamar ku untuk istirahat, saat melewati kamar
kak raya trnyta pintunya sedikit terbuka dan aku melihat tv dikamarnya menyala
dan kak raya sedang berbaring di tempat tidur.
“kak volume nya kecilin dong.. aku mau istirahat”. Ujarku sambil masuk
ke kamarku sendiri. Aku pun segera membuka sepatu dan kaos kaki ku , kemudian
aku langsung berbaring di ranjang dan menghela nafas untuk mencoba lupakan
mimpi-mimpi itu. Kuarang lebih 15 menit aku mencoba rileks dan memejamkan mata. Biasanya mamah sudah
memanggilku untuk menyuruhku makan, namun dari tadi aku belum mendengar suara
mamah ataupun kak Raya.
“huuhh mamah lagi ngapain sih, kok gak kedengeran ya suaranya.” Aku
merasa haus dan lapar, aku pun memutuskan untuk ke dapur mencari makanan dan minuman di kulkas. Aku
pun membuka kulkas dan mengambil sebuah apel. Ketika aku menutup kulkas aku
melihat sebuah memo dari mamah yg di tempel di pintu kulkas. Aku pun
membacanya, kata mamahku ia pergi ke tempat kuliah kak raya karena ada urusan.
Aku pun bertanya-tanya, lalu siapa yang tadi menutup gorden? Mamah kan pergi,
apa mungkin kak Raya? Tapi masa sih kak raya ? kalo mamah ke kampus kak raya
karena ada urusan pasti urusannya menyangkut kak raya. Dan kak raya pasti juga
di kampus sama mamah.. lalu yang dikamaaaarr siaapaa? Aku pun segera menuju
kamar kak raya dan memberanikan diri membuka pintu kamarnya, dan setelah aku
buka ternyata di kamarnya kosong tak ada siapapun, dan tv pun dalam keadaan
mati. Aku pun makin merasa cemas, perasaan ku campur aduk. Dengan tergesa-gesa
aku segera bergegas keluar rumah dan berlari secepatnya. Aku tak tau apa yang
sedang kurasakan, aku terus saja berlari seperti dikejar-kejar perasaan ku
sendiri, aku teringat sebagian mimpiku
yaitu aku berlari secepat mungkin dengan perasaan yang dihantui rasa takut,rasa
cemas, dan perasaan yang tidak enak. Aku pun makin bertnya Tanya , apa yang
sebenarnya terjadi ???” aku pun kemudian terjatuh. Dan seseorang menolongku,
ternyata itu pak Royo tetanggaku temannya ayah.
“Bia kamu kenapa?” sepertinya pak royo mancemaskanku. Muka ku pucat
pasi, keringt pun membanjiri tubuhku, detak jantungku sangat cepat, dan
hembusan nafasku makin tidak beraturan. Anehnya, aku merasa tadi sudah berlari
sangat jauh, tapi mngapa aku terjatuh tepat di depan rumahku.Kemudian sebuah
mobil berhenti di samping jalan dan ternyata itu adalah Tama, tama segera turun
dai mobil dan menghampiriku.
“astagfirullah, BIa kamu kenapa?”.
“apa yang terjadi dengan keluarga aku ?”
“Bia, tadi paman dapet telepon dari kantor ayah kamu, ayah kamu
meninggal karena seranagan jantung.” Aku terdiamm.
“di jalan yang tadi kita lewatin, ternyata itu yang kecelakaan adalah
mobilnya Juno, dan di dalem mobil itu ada kak raya dan mamah kamu. Mereka
meninggal ..” Ujar tama
Aku pun berteriak dan menagis histeris seperti kehilangan akal , dan
ini semua seperti jawaban atas perasaan – perasaan yang akhir2 ini menghantuiku. Aku pun memeluk Tama
dan menangis di pundaknya, tama mencoba menenangkanku, begitu pula pak Royo.
Kemudian esok harinya keluarga ku di makam kan secara berdekatan ,
setelah selesai pemakaman orang orang
pun pergi , hanya tinggal aku yang masih memandangi makam keluargaku di temani
tama.
“aku masih gak percaya ..”
“yaudahlah bia, serahin semuanya sama
allah . aku yakin kamu pasti kuat
ngadepin semua ini.”
“terimaksih tam, aku akan lebih kuat klo kamu selalu ada disini
bersama aku.”
“aku gak bisa ..” jawab tama dengan singkat.
Aku menatapi makam keluargaku satu-satu tapi di barisan keempat makam
aku melihat sebuah batu nisan bertuliskan
nama PRATAMA HANGGAWA . aku pun langsung
menengok kearah tama dan aku tercengang saat aku mengetahui tak ada
siapa-siapa disitu kecuali aku .
“gak mungkin , “
Aku pun seperti terbawa oleh waktu , posisiku kini berada di sekolah tepatnya
masih di ruang osis .
Aku bingung dengan semua ini , bukankah tadi aku ada di pemakaman? Aku
pun baru sadar kalo di depan ku ada Tama tertimpa kardus yg jatuh dari atas lemari
, tak tau apa yg ada di dalam kardus itu , yg pasti tama terbujur kaku dengan kepala di lumuri darah .
“Tidaaaaakkkkkkkkkkkkkkkk !!!” teriakku.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar